Sejauh Mana Desainer Menguasai Flash

Negara kita bukanlah negara di belahan dunia sana, dimana kemampuan khusus seseorang dihargai sebagai sebuah aset yang sangat berharga. Bila Anda melihat lowongan-lowongan pekerjaan di internet, koran atau majalah, yang dicari adalah seseorang yang serba bisa. Apakah mereka (pencari karyawan serba bisa) menyadari, bahwa semakin banyak konsentrasi seseorang terbagi dalam berbagai spesifikasi, fokus kerja menjadi tidak jelas.

Kembali kepada pokok bahasan. Macromedia Flash mungkin adalah satu-satunya software yang memungkinkan 2 profesi yaitu visual designer dan programmer berkolaborasi dalam satu software. Dalam Flash, ia tidak hanya memiliki peralatan untuk menampilkan visual, tapi juga bahasa program yaitu Actionscript untuk membantu interaktifitas. Sialnya, masih banyak orang menganggap bahwa dalam Flash itu merupakan satu kesatuan, hingga banyak orang yang menganggap semua pekerjaan yang berhubungan dengan flash cukup dikerjakan oleh satu orang.

Baikla, mari kita lihat job description dari kedua profesi tersebut:

Visual Designer : Bertanggung jawab pada sisi artistik visual meliputi: desain antarmuka, animasi, dan grafis.
Programmer: Bertanggung jawab pada sisi interaktifitas dan back-end support.

Pada sebuah project besar, terkadang Visual Desainer dikerjakan oleh beberapa orang, ada yang khusus mengerjakan antarmuka, menggambar karakter, membuat animasi, dll. Demikian pula dengan Programmer tatkala project yang dikerjakan harus berhubungan dengan platform lainnya, harus meng-hire orang yang memiliki kemampuan dengan platform tersebut.

Lalu, bagi seorang desainer, kemampuan apa saja yang harus di kuasai?

Berbincang dengan rekan saya yang telah lama malang melintang di dunia Flash,  Bagi seorang desainer, kemampuan flash   seorang desainer (minimal) harus meliputi Visual Art (Antar muka, grafis), Animasi, dan Basic Actionscript. Minimal, ia telah mampu membuat sebuah animasi dan interaktifitas sederhana.

Baiklah, mari kita deskripsikan. Visual Art adalah modal dasar bagi seorang desainer untuk berkarya, ia harus memiliki pemahaman mendasar tentang tataletak, warna, tipografi, dan penguasaan beberapa software pendukung. Animasi, desainer memiliki pemahaman mengenai Tweening (animasi dalam flash), dan pembuatan Symbol (button dan movie clip). Sedangkan dalam Basic Actionscript ia mengerti dan memahami minimal mengenai Timeline control. Semakin banyak bergelut, biasanya kemampuan seorang desainer di Flash akan Actionscript akan semakin berkembang, meskipun begitu jangan disamakan dengan programmer, karena dua profesi itu berbeda. (Pupung Budi Purnama)

16 Responses to “Sejauh Mana Desainer Menguasai Flash”

  1. Anonymous Says:

    Betul SeKAli

  2. hendwork Says:

    ” amat sangat setuju … :D “

  3. yan arief Says:

    desainer bukan sekedar pinter teknik penguasaan software grafis, harus menguasi/memahami dasar-dasar desain grafis.

  4. yudi Says:

    saya agak kurang setuju ya…
    bisa aja kok kedua hal tsb dilakukan oleh satu orang saja,
    otak kiri dan otak kanan bisa digunakan secara bersamaan…

    salam kenal :)

  5. Petunjuk Says:

    Memang benar, iklan lowongan di Indonesia menunjukkan kalau keahlian yang berhubungan dengan IT dan Computer Design kurang dihargai alias dihargai murah meriah. Sebuah iklan dengan daftar kebutuhan keahlian yang panjang….. menjanjikan gaji 2 jt per bulan.

  6. Rio Says:

    kalau berkaitan dg spesifik web design specialist, setidaknya harus mengerti teori warna dan implementasinya dalam media digital dan sedikit usability

  7. Den-Restu Says:

    kadang saya sempat menilai bahwa flash adalah segalanya, bagaimana aplikasi flash dapat dipublish untuk berbagai keperluan dalam berbagai media. Tapi, setelah membaca artikel ini kranya perlu untuk mencoba mendalami aplikasi yang lain.

    Thanks !
    ‘lam TTIP, daramang ?

  8. Noven Says:

    Masalah seperti ini juga tidak bisa dikatakan bahwa pekerjaan flash harus dikerjakan oleh 2 orang. mungkin kita bisa batasi kesulitan pekerjaan itu, untuk project kecil masih bisa kerjakan oleh 1 orang saja. Alasannya begini, untuk seorang designer flash (apalagi saya) tidak mungkin hanya mau belajar flash cuma sekedar designnya aja.kebanyakan orang pasti akan belajar sampai ke action script.Nah, untuk project yang kecil itu mungkin bisa diselesaikan oleh orang-orang seperti ini.
    Namun bila sudah menginjak ke project yang besar mau gak mau harus membutuhkan orang lebih.
    Biasanya perusahaan membatasi budgetnya seminimal mungkin untuk dapat menghasilkan project sebagus-bagusnya. Inilah yang dinamakan hukum ekonomi. Memang perusahaan seperti itu, kita perlu maklum. Untuk pihak kita sebagai karyawan tentunya sangat merugikan. namun begitulah adanya.

  9. ees Says:

    saya mungkin orang yang tidak percaya dengan team besar dalam merencanakan sebuah proyek desain. Apapun proyek desainnya. Secara sederhan berapa sih perushaan akan membayar pekerjaan kita? Yah kecuali perushaan sangat besar dan beroprasi sekala global. mungkin cukup besar. tapi kayanya juga akan dilahap oleh perushaan besar juga. Sebut saja proyek itu didapatkan oleh team yang dibangun bersama dari perushaan yang agak lumayan. Kemudan dibagi2 keuntungannya. Saya yakin hasilnya tidak sepadan dengan kerja keras yang sudah kita keluarkan. kasihan kan teman-teman lain.
    Dalam benak saya 2 orang saja cukup mewakili interface design (visualnya) dan programing. Nah, kapan2 ada proyek lebih gede boleh deh panggil teman -temen lain

  10. Nunung Says:

    Hmmm, otak-otak

  11. bricko Says:

    saya sangat setuju….jangan sampai
    desain grafis menjadi desain gratis
    kadang2 perlu kita renungkan….
    kadang sebuah tim sangat lah efektif dalam suatu proyek tp dlm skala tertentu..
    sebagai manusia mahluk sosial, kt perlu interaksi sesama.yup…..
    menjadi seorang profesional kt hrs memilih satu jalan.Klo banyak jalan yg kita tempuh kita pasti bingung sendiri kemana kita hrs keluar….

  12. Nav Online Says:

    informasi yang menarik, Trims.

  13. adhi Says:

    setuju banget, designer juga harus sedikit mengerti proses kerja programmer, begitu juga sebaliknya, sehingga bisa saling bekerja sama untuk menghasilkan karya yang baik

  14. agi Says:

    Ada bagian yang saya setuju dan tidak saya setuju.

    Saya tidak setuju jika proyeknya kecil. Karena itu juga akan menghemat biaya asal pembuat proyeknya cukup handal.

    Tapi saya setuju, jika proyeknya teramat sangat besar, sehandal apapun orangnya, pengelompokan jobdesk perlu diperhatikan.

    :)

    GBU

  15. marinerz Says:

    daripada milih salah satu, kenapa ngga dua2nya dikuasain. jadi programmer yg jago design grafis. gimana? setuju kan?
    salam http://benbego.wordpress.com

  16. Komang Suartawan Says:

    Negara ini tidak akan pernah maju selama skill seorang tidak dihargai sepantasnya. karena orang-orang yang mempunyai skill tinggi lebih memilih di perkerjaakan oleh orang asing dengan gaji yang mampu menunjang kehidupanya. ketimbang di negara kita yang tidak ada dukungan terhadap orang yang yang mempunyai skill tinggi. lalu siapakah yang masih tinggal di indonesia??????. tentu orang-orang bodoh yang mampu bekerja dengan cara suap. itulah penyebab kemerosotan negara ini dalam segala bidang apapun itu. karena situasi di luar sana terbalik dengan di negara kita. kita dengan uang mencari kerja sedangkan mereka dengan kerja mencari uang!!!

Leave a Reply